MAKIN MEMANAS! Politik Identitas 'Orang Kampung' vs Realitas Demokrasi: Mengapa PDIP Begitu Geram pada JOKOWI?

AKURAT BANTEN – Panggung politik nasional kembali diguncang oleh benturan narasi yang kian tajam antara Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dengan partai yang membesarkannya, PDI Perjuangan.
Kali ini, isu sentralnya bukan sekadar soal dukungan, melainkan pertarungan antara politik identitas "Orang Kampung" melawan realitas tatanan demokrasi.
Polemik ini memuncak saat Jokowi menanggapi klaim sejarah dari Jusuf Kalla (JK) dengan kalimat singkat yang sarat makna: "Saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung."
Namun, bagi PDIP, narasi kerendahhatian ini dianggap sebagai paradoks di tengah kebijakan politik yang mereka nilai justru menjauhi nilai-nilai kesantunan rakyat kecil.
Baca Juga: Makin Panas! PDIP 'Geram' Kalimat Orang Kampung Jokowi: Kalau Santun, Harusnya Tidak Merusak!
Mengapa PDIP Begitu Geram?
Kegeraman PDIP bersumber pada pandangan bahwa identitas "orang kampung" seharusnya mencerminkan kepatuhan pada aturan, etika, dan rasa hormat terhadap institusi.
PDIP menilai ada ketimpangan besar ketika narasi kesederhanaan digunakan sebagai tameng, sementara di sisi lain terjadi langkah-langkah politik yang dianggap merusak konsensus demokrasi yang telah lama dibangun.
Pihak internal PDIP kini mulai mempertanyakan: apakah identitas "wong cilik" masih murni, atau telah bergeser menjadi instrumen politik untuk melanggengkan kekuasaan di luar jalur organisatoris?
Identitas sebagai 'orang kampung' adalah tentang integritas dan budi pekerti yang luhur. Namun, identitas itu menjadi kehilangan maknanya ketika tindakan politik yang diambil justru mencederai demokrasi. Orang kampung yang sejati tidak akan merusak tatanan yang telah membesarkan dan memberinya kepercayaan.
Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Mau Dihentikan, Refly Harun Tegas 'Kami Tak Akan Minta Maaf'
Pertarungan Narasi: Simpati vs Substansi
Jokowi selama ini dikenal sangat lihai menggunakan persona sebagai rakyat biasa untuk menarik simpati publik.
Namun, serangan frontal PDIP kali ini menunjukkan bahwa mereka ingin membongkar substansi di balik persona tersebut.
Bagi PDIP, realitas demokrasi tidak bisa dikalahkan hanya dengan retorika asal-usul yang sentimental.
Serangan balik ini juga menandakan berakhirnya era "romantisme" antara Jokowi dan PDIP.
Partai berlambang banteng ini tampaknya sudah bulat untuk membedah setiap kebijakan Jokowi melalui kacamata konstitusi, bukan lagi kacamata kekeluargaan. (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 5Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan







